Dalam dunia medis modern, penyembuhan tidak lagi hanya berfokus pada pemberian obat-obatan kimiawi, tetapi juga mulai melirik kekuatan spiritual dan psikologis pasien. RSUP Inti Medika menyadari betul bahwa kondisi mental yang stabil sangat memengaruhi respon tubuh terhadap terapi medis. Salah satu program yang sangat kami anjurkan bagi setiap pasien dan pendamping adalah mengamalkan dzikir pagi petang. Praktik ini bukan sekadar rutinitas lisan, melainkan sebuah metode yang sangat efektif untuk membangun pertahanan spiritual dan mental yang kuat di tengah ujian sakit.
Kegelisahan dan kecemasan adalah musuh utama bagi pasien yang sedang menjalani perawatan intensif. Rasa takut akan masa depan, biaya, atau rasa sakit itu sendiri sering kali membuat metabolisme tubuh menurun. Di RSUP Inti Medika, kami memperkenalkan dzikir sebagai media untuk meraih kedamaian batin. Ketika seorang pasien melafalkan kalimat-kalimat thoyyibah pada waktu subuh dan menjelang maghrib, fokus pikirannya akan beralih dari rasa sakit menuju kebesaran Sang Pencipta. Peralihan fokus inilah yang menjadi kunci hati tenang yang sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan.
Banyak penelitian dalam bidang neurosains menunjukkan bahwa repetisi kalimat-kalimat positif dan bermakna spiritual dapat menurunkan kadar hormon kortisol (hormon stres) dalam darah. Dzikir yang dilakukan secara rutin di pagi petang membantu otak memproduksi gelombang alfa yang menenangkan. Bagi pasien di RSUP Inti Medika, hal ini berarti kualitas tidur yang lebih baik, sistem imun yang lebih aktif, dan daya tahan terhadap rasa sakit yang meningkat. Suasana hati yang stabil membuat arahan dari dokter dan perawat dapat diterima dengan lebih baik, sehingga kerjasama dalam proses medis menjadi lebih sinergis.
Selain memberikan ketenangan, dzikir juga mengandung unsur sugesti positif yang sangat kuat. Kalimat-kalimat perlindungan dalam dzikir memberikan rasa aman bahwa pasien tidak sendirian dalam menghadapi penyakitnya. Ada kekuatan besar yang senantiasa menjaga dan mengawasi. Kesadaran akan kehadiran Tuhan ini membuat pasien lebih mudah untuk bersyukur atas hal-hal kecil yang masih dimiliki, seperti tarikan napas yang lancar atau kehadiran keluarga yang setia menunggu. Perasaan syukur inilah yang sering kali menjadi keajaiban yang mempercepat proses untuk sembuh dari berbagai macam penyakit kronis.