Kanker paru-paru sering kali diasosiasikan secara eksklusif dengan riwayat merokok. Anggapan ini, meskipun benar bahwa merokok adalah faktor risiko utama, telah menyebabkan banyak individu non-perokok mengabaikan gejala dini penyakit mematikan ini. Padahal, sekitar 10-20% kasus kanker paru terjadi pada orang yang tidak pernah merokok. Untuk meningkatkan peluang kesembuhan, yang sangat bergantung pada temuan stadium awal, penting untuk memahami bahwa Melakukan Deteksi Dini kanker paru adalah kebutuhan kolektif, melampaui kelompok perokok aktif. Melakukan Deteksi Dini pada kelompok berisiko tinggi non-perokok ini sangat penting karena gejala sering kali baru muncul saat penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan pada laporan tahun 2025 menyebutkan bahwa tingkat kesintasan (survival rate) lima tahun pasien kanker paru meningkat hingga 70% jika terdeteksi pada stadium I, dibandingkan kurang dari 10% jika terdeteksi pada stadium IV.
Lantas, siapa saja yang wajib Melakukan Deteksi Dini kanker paru selain perokok? Ada beberapa kategori risiko tinggi yang harus diperhatikan serius:
1. Perokok Pasif (Secondhand Smoke Exposure)
Individu, terutama anak-anak dan pasangan dari perokok berat, yang terpapar asap rokok secara berkepanjangan memiliki risiko yang signifikan. Asap rokok pasif mengandung bahan kimia karsinogenik yang sama berbahayanya. Jika Anda tinggal atau bekerja selama bertahun-tahun di lingkungan yang penuh asap rokok, Anda masuk dalam kelompok yang harus waspada.
2. Riwayat Paparan Zat Karsinogen di Tempat Kerja
Orang-orang yang bekerja di industri tertentu memiliki risiko tinggi karena paparan zat karsinogen spesifik. Ini termasuk paparan asbes (sering ditemukan di industri konstruksi atau galangan kapal tua), radon, kromium, nikel, dan debu batubara. Pekerja yang memiliki riwayat pekerjaan di pertambangan atau pabrik tanpa alat pelindung diri yang memadai, terutama sebelum regulasi ketat diterapkan, wajib berkonsultasi untuk skrining. Dr. Bima Sakti, Sp.P, dari Perkumpulan Dokter Paru Indonesia (PDPI), pada seminar kesehatan lingkungan kerja tanggal 14 Mei 2026, menekankan perlunya skrining berbasis Low-Dose CT Scan (LDCT) bagi kelompok pekerja ini, meskipun mereka tidak merokok.
3. Riwayat Penyakit Paru Kronis
Individu yang memiliki riwayat penyakit paru kronis, seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang parah, atau riwayat Tuberkulosis (TBC) yang meninggalkan bekas luka (fibrosis) luas di paru-paru, juga memiliki peningkatan risiko. Jaringan parut (scar tissue) pada paru-paru dapat menjadi tempat berkembangnya sel kanker.
4. Riwayat Kanker dalam Keluarga
Faktor genetik memainkan peran. Jika ada anggota keluarga tingkat pertama (orang tua atau saudara kandung) yang didiagnosis kanker paru pada usia muda, risiko Anda juga mungkin lebih tinggi.
Deteksi dini umumnya dilakukan melalui pemeriksaan LDCT, yang lebih efektif daripada rontgen dada biasa dalam menemukan nodul kecil. Jika Anda termasuk dalam salah satu kategori risiko tinggi di atas, terlepas dari riwayat merokok, segera diskusikan dengan dokter spesialis paru untuk menentukan jadwal dan jenis skrining yang tepat.